Yayan Ruhian dan Filosofi Pencak Silat

Yayan Ruhian, pria kelahiran 19 Oktober 1968, makin dikenal setelah terlibat dalam film Merantau (2009) dan The Raid (2012) yang disutradarai Gareth Evans.

Kecintaannya terhadap seni bela diri pencak silat telah membuatnya dipercaya sebagai aktor dalam beberapa film laga berskala internasional.

Yayan Ruhian, pria kelahiran 19 Oktober 1968, makin dikenal setelah terlibat dalam film Merantau (2009) dan The Raid (2012) yang disutradarai Gareth Evans.

Dan belakangan, dia tampil pula dalam film berlevel internasional yang disutradarai Takashi Miike, sutradara asal Jepang, Yakuza Apocalpyse (2015).

“Kalau kita mengerjakan apa pun, kita mesti serius dan tulus, tanpa banyak pamrih … insya Allah apa yang kita cintai itu bisa memberikan sesuatu yang positif buat kita,” kata Yayan.

Ayah dua anak ini juga mengharapkan, keterlibatannya dalam dunia akting dapat memperluas pemahaman masyarakat terhadap seni bela diri pencak silat.

“Saya juga berharap generasi muda kita semakin mencintai pencak silat,” katanya kepada BBC Indonesia.

Tetapi mengapa Yayan menganggap semua gerakan pencak silat ada mengandung nilai-nilai filsafat ketimuran?

Berikut petikan wawancara dengan Yayan Ruhiyan, di sela-sela kesibukannya melatih anak didiknya di Jakarta, Jumat (23/10) malam, dalam rubrik Bincang BBC Indonesia:

Bagaimana awal mula Anda tertarik mendalami pencak silat?

Simpel saja. Saya sendiri berasal dari desa kecil di Tasikmalaya. Biasalah, anak yang menginjak remaja, selalu pengin bisa bela diri, bisa silat.

Mulailah saya mengenali saya pencak silat, dari perguruan ke perguruan silat lainnya. Akhirnya saya menemukan satu perguruan silat yang teroganisir dan bagus. Saat itu namanya Kateda Internasional, tapi sekarang bernama PSTD Indonesia.

Sebetulnya apa yang menarik dari bela diri pencak silat?

Awalnya, saya sebetulnya bukan tertarik dengan pencak silat. Tapi minat ‘Wah, saya harus belajar beladiri, gue belajar silat’, terlepas apa yang menarik dari pencak silat, yang saya nggak tahu.

Tapi setelah saya masuk perguruan yang terorganisir dengan bagus, kemudian perguruan ini memiliki satu metode bagus dan cocok buat saya, saya terus mempelajari tentang pencak silat.

“Dan, semakin mempelajarinya, ternyata di dalam pencak silat itu, setiap gerakan, bahkan dari pola pasang, sudah ada filosofinya,” kata Yayan.

“Artinya, jangan pernah kita mencari musuh. Kalau (dia) datang, kalau bisa kita hindari,” kata Yayan.

Dan, semakin mempelajarinya, ternyata di dalam pencak silat itu, setiap gerakan, bahkan dari pola pasang, sudah ada filosofinya.

Jadi banyak nilai luhur yang terkandung dalam pencak silat. Mulai sikap pasang, cara menyerang. Semua ada filosofinya.

Semuanya tidak terlepas dari budaya Indonesia, tidak telepas dari watak ketimuran orang Indonesia.

Bisa Anda berikan contoh kaitan gerakan pencak silat dengan nilai-nilai yang Anda maksudkan?

Hal yang paling gampang di dalam pencak silat itu, misalnya, sikap pasang.

Sikap pasang di dalam pencak silat itu jarang melakukan posisi seperti ini, yaitu tangan dikepal. Tapi selalu dengan tangan dibuka. (Yayan kemudian memperagakan posisi tangannya).

Itu maksudnya bahwa pencak silat itu bukan sebuah bela diri untuk berantem (berkelahi) untuk memukul orang atau menyakiti orang. Sama sekali bukan. Tapi betul-betul bela diri.

Bahkan, di dalam sikap pasang, kalau ada yang ngajak berantem, ‘ntar dulu bos. Kalau dia masih menyerang, hindarilah. Hindarkan saja dulu! Kalau mau masih juga menyerang, tangkislah dulu!

Setelah kita tangkis, dia masih bisa menyerang, kita tangkap, dan kita kuncilah.

Untuk melumpuhkan, untuk mengalahkan orang itu, nggak harus menyakiti. Kalau bisa ditangkap dengan dikunci, dihentikan gerakannya, kenapa nggak. Begitu.

Artinya, jangan pernah kita mencari musuh. Kalau (dia) datang, kalau bisa kita hindari.

Intinya, kalau kita pelajari secara mendalam sampai pada intinya, jenis bela diri apapun -termasuk pencak silat- ternyata ke sananya adalah pendekatan kepada siapa yang punya diri kita.

Bela diri itu penting, tapi sekarang ada yang jauh lebih penting yaitu tahu diri.

Nama Anda mulai sering disebut setelah Anda terjun di dunia film, bahkan setidaknya tiga film bertaraf internasional ya?

Tiga film yang terutama, ya. Pertama, film Merantau (2009); yang kedua The Raid (2012), dan ketiga The Raid 2: Berandal (2014).

Memang tiga film ini yang melambungkan pencak silat. Dan saya sebagai bagian masyarakat pencak silat, saya sangat berterima kasih kepada Gareth Evans (sutradara) dan Rangga Maya Barack (istri Gareth Evans), melalui perusahaan filmnya, membuat produk yang memperkenalkan pencak silat melalui media lain.

Sebelumnya, kami hanya mengenalkan pencak silat melalui performance (penampilan) dari satu negara ke negara lain kepada semata penggemar bela diri. Tapi melalui layar lebar ini, pencak silat dikenalkan ke seluruh orang yang jelas lebih antusias.

Tentu ada kata kunci, sehingga Anda bisa tampil pada sejumlah film berskala internasional?

Sebetulnya, ini bukan sebuah kepercayaan karena prestasi. Saya lebih menganggap ini bagian dari jalan hidup saya seperti yang Tuhan gariskan.

Kalau dikatakan ukurannya prestasi, banyak orang yang lebih berprestasi di dunia pencak silat, tapi belum menemukan kesempatan seperti saya dapatkan.

Ini hanya kebetulan. Inilah garis hidup saya. Ini tanggung jawab saya sebagai pribadi dan bagian masyarakat pencak silat.

Tapi lebih dari itu, yang ingin saya tekankan dalam film-film ini , kami lebih mengenalkan pencak silat pada generasi muda bangsa kita. Motivasi kami bukan untuk mengenalkan pencak silat ke dunia. Jauh sebelum film Merantau, dunia sudah mengenal pencak silat.

Hanya melalui layar lebar, mudah-mudahan bisa menjadi pembuka film-film Indonesia yang bisa menembus Hollywoood.

Dan melalui film ini, saya berharap, agar pencak silat, seperti halnya batik dan wayang, tidak dipandang sebelah mata.

Misalnya, kami mencoba menggelar seminar tentang pencak silat, tetapi tidak ada yang tertarik. Tetapi begitu murid kami, seorang warga Amerika Serikat (AS) menggelar acara serupa, semua menjadi tertarik.

Jadi, mudah-mudahan, kita sebagai bangsa Indonesia, termasuk saya, bisa mencintai dan bangga apa yang dimiliki bangsa kita. Jangan sesuatu itu dikatakan bagus, sesudah dikatakan bagus oleh bangsa lain.

Mari kita bangkitkan rasa percaya diri kita, bahwa kita mampu, bahwa kita memiliki yang hebat.

Dan di dunia perfilman, sudah banyak dibuktikan bahwa Hollywood menggunakan orang-orang kita. Sudah ada Iko Uwais, Joe Taslim. Kita bangga. Mudah-mudahan Iko Uwais dapat menjadi duta Indonesia untuk dunia pencak silat.

Karena, kalau kita lihat pada bela diri aikido, sudah memiliki sosok Steven Siegal, lalu kungfu atau wushu ada orang seperti Jacky Chan. Juga jenis bela diri lainnya.

Tadi Anda dengan rendah hati mengatakan, apa yang terjadi pada diri Anda sekarang karena kebetulan semata. Tapi tentu ini tidak mudah. Ada proses panjang, bahkan latihan setiap saat?

Intinya, sejak awal saya mengenal pencak silat, masuk perguruan, menjadi pelatih pro, dan melatih dari pagi sampai malam, lalu latihan, kembali melatih, itu saya lakukan dengan tulus.

Saya tidak menganggap itu beban. Itu tanggungjawab dan kewajiban saya. Dan sekarang sudah saya anggap menjadi kebutuhan saya.

Kalau saya tidak melatih, di satu sisi saya kehilangan untuk menjaga kesehatan, di sisi lain saya kehilangan kewajiban untuk mengajar dengan para anggota saya. Saya juga bisa kehilangan ajang silaturrahmi dengan saudara-saudara saya.

Jadi, intinya, kalau kita mengerjakan apapun, kita mesti serius dan tulus, tanpa banyak pamrih, tanpa banyak membuat rencana muluk-muluk, lakukan dengan tulus, santai, enjoy. Insya Allah apa yang kita cintai itu bisa memberikan sesuatu yang positif buat kita.

Apa yang Anda petik saat bermain dalam dalam tiga film berskala internasional?

Saya tidak akan pernah menganggap ini film pertama, kedua atau ketiga. Semuanya menurut saya merupakan film pertama. Karena, setiap film saya kebetulan memperoleh karakter yang beda. Setiap beda karakter itu merupakan sesuatu yang baru buat saya.

Buat saya, kepercayaan seorang sutradara. Kalau sutradara mengatakan, ‘Saya ingin Pak Yayan memainkan sosok A’, maka saya cuma ingin tahu: A itu sosok fisiknya seperti apa, bagaimana mentalitasnya, kecerdasannya kira-kira bagaimana, gayanya bagaimana, dan lain-lain.

Apabila itu sudah terjawab, maka kita bisa memulai. Intinya, saya menjadikan diri sebagai wayang dari sutradara atau dalangnya.

Siapa yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidup Anda sehingga Anda bisa sekarang?

Saya agak kurang bisa dipengaruhi orang lain. Kalau dikatakan saya egois, ya, saya egois. Tapi bagaimanapun yang bisa mempengaruhi saya, yaitu orang yang terlibat dalam pekerjaan dengan saya. Dalam dunia film, tentu yang bisa mempengaruhi saya adalah sutradara.

Kemudian dalam kehidupan secara umum, yang mempengaruhi saya adalah diri saya sendiri. Tapi harus saya akui pula, semua orang bisa mempengaruhi diri saya, tergantung di mana saya berada dan di mana saya berhadapan.

Sumber: Detikcom

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s