Sejarah Garis Paksi

Lembaga Pewarisan Pencak Silat didirikan oleh Gending Raspuzi di Tasikmalaya pada 9 Februari 1997, bertepatan dengan Hari Idul Firi 1 Syawal 1417 H. Agar lebih memudahkan untuk diingat maka digunakanlah singkatannya, yaitu GARIS PAKSI, yang merupakan penggalan kata dari LembaGA PewaRISan PencAK SIlat.

Mengapa menggunakan nama “Lembaga” karena organisasi ini bukan merupakan perguruan pencak silat. Kegiatan di lembaga ini tidak hanya berupa latihan saja seperti di perguruan pencak silat biasa, tetapi juga terdapat kegiatan-kegiatan lain seperti pendokumentasian, penelitian, publikasi, dan sebagainya. Demikian pula mengenai keanggotaan, Garis Paksi sangat terbuka bagi siapa saja untuk bergabung dan aktif di lembaga ini tanpa melihat latar belakang beladiri, perguruan, atau aliran. Pada dasarnya, siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap pencak silat boleh menjadi anggota lembaga tanpa harus melepaskan status keanggotaan di perguruannya masing-masing.

Garis Paksi juga bersifat independen, tidak bernaung di bawah organisasi resmi pencak silat seperti IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) atau PPSI (Persatuan Pencak Silat Indonesia), namun tidak juga membawahi perguruan-perguruan pencak silat yang ada, karena yang menjadi anggota lembaga adalah individu atau perorangan, tanpa membawa organisasinya.

Kata “Pewarisan” mengandung arti bahwa pencak silat merupakan salah satu warisan para leluhur yang harus dijaga, dipelihara, dan dilestarikan oleh kita sebagai keturunannya. Di sisi lain, kita juga suatu saat nanti akan menjadi leluhur bagi keturunan kita di masa yang akan datang. Oleh karena itu kita juga harus berusaha mewariskan pencak silat ini kepada generasi muda sebagai bentuk tanggung jawab kepada leluhur kita. Lembaga ini menganggap pencak silat sebagai “pusaka” peninggalan leluhur yang harus dijaga keutuhannya, selain itu menganggap pencak silat sebagai “ilmu pengetahuan” yaitu suatu proses yang tidak boleh berhenti di suatu masa, pencak silat harus terus berkembang ke arah yang lebih sempurna sesuai dengan kemajuan zaman.

Kata “Pencak Silat” sengaja digunakan untuk membatasi ruang lingkup garapan lembaga ini, karena pencak silat yang tersebar di Tatar Sunda (saat ini terbagi menjadi Provinsi Jawa Barat dan Banten) sangat banyak dan beragam, demikian pula materi yang dapat digali dari pencak silat sangatlah dalam, baik olah gerak, olah rasa, maupun olah jiwa yang terkandung di dalam filosofi pencak silat. Oleh karena itu, cukuplah lembaga ini membatasi diri hanya pada obyek pencak silat. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan menggarap juga hal-hal lain yang masih ada kaitannya secara langsung ataupun tidak langsung dengan pencak silat.

Gagasan mendirikan lembaga muncul setelah mengetahui betapa beranekaragamnya pencak silat yang tersebar di Tatar Sunda, dan ada kekhawatiran kekayaan tersebut akan hilang jika tidak ada usaha sistematis dan terencana dalam melestarikan dan mewariskannya kepada generasi muda.

Saat itu ia tidak berminat mendirikan perguruan pencak silat baru dan menggabungkan semua ilmu pencak silat yang telah dipelajarinya. Ia lebih tertarik untuk mendirikan lembaga independen yang dapat mewadahi semua pencak silat khususnya yang ada di Tatar Sunda. Ia beranggapan jika mendirikan perguruan pencak silat maka langkahnya akan sempit dan terbatas ruang geraknya. Dengan lembaga maka terbuka kesempatan untuk berkomunikasi dengan sesama pesilat dengan latar perguruan dan aliran yang berbeda, di samping itu hal-hal lain yang lebih penting dapat digarap atas nama lembaga.

Namun, setelah beberapa tahun lembaga ini berjalan dan seringkali mengadakan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat luas, seperti guru-guru sekolah, anggota perguruan pencak silat, anggota suatu instansi, dan siapa pun yang ingin mempelajari pencak silat, ada satu hal yang sedikit mengganjal hatinya, yaitu murid-murid yang belajar di Garis Paksi belum pernah ada yang mempelajari keilmuan secara lengkap, karena masing-masing murid hanya mempelajari ilmu yang diinginkannya. Ada yang mempelajari beladiri namun tidak tahu ilmu ibing penca, ada yang hanya mempelajari Jurus TGR, dan sebagainya. Ironisnya, banyak murid-murid Garis Paksi yang tidak saling mengenal, di samping berbeda angkatan, juga berbeda ilmu yang dipelajarinya. Dengan alasan itulah akhirnya sejak tahun 2007 ia memutuskan untuk menyusun materi latihan Garis Paksi menjadi 2 bagian:

  1. Latihan Umum/Reguler atau disebut Program Puragabaya, yaitu latihan rutin yang dilaksanakan secara berjenjang berdasarkan tingkatan. Materi yang diajarkan adalah semua aspek pencak silat yang terdiri dari beladiri, seni, olahraga, dan aspek mental spiritual. Diajarkan pula berbagai aliran pencak silat tradisional Jawa Barat dan Banten.
  2. Latihan Khusus dalam bentuk Komunitas Latihan. Komunitas Latihan ini dibagi menjadi tiga jenis program, yaitu:
    • Program Jawara, dengan materi beladiri/aliran pencak silat tradisional.
    • Program Santika dengan materi seni budaya dan olahraga prestasi.
    • Program Sanalika dengan materi khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan.
    • Syarat mengikuti Latihan Khusus adalah telah mengikuti Program Puragabaya sampai 3 tingkat (kecuali Program Sanalika).
Advertisements