PPI Dukung Seminar Silat Tradisional Di Hannover

Tokoh pencak silat tradisional Jawa Barat, Gending Raspuzi, mengakhiri tur pencak silat Eropa di kota Hannover, Jerman. Seminar yang digelar pada 23-24 April 2016 tersebut diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hannover dan diprakarsai oleh Popeye S. Satjadiguna, seorang penggiat pencak silat tradisional Jawa Barat yang berdomisili di Hannover.

Firmansyah Nur Indraseta, Ketua penyelenggara dari seminar tersebut mengungkapkan bahwa PPI sangat mendukung ide-ide dan kegiatan-kegiatan yang mempromosikan kebudayaan Indonesia. Sedangkan Ketua PPI Hannover, Isabela Angelita Wijaya, dalam sambutannya berharap bahwa dengan kegiatan-kegiatan yang mengangkat budaya Indonesia seperti ini, anak-anak muda Indonesia yang sedang belajar di Jerman, serta warga Jerman dan Europa pada umumnya, menjadi lebih mengenal dan mencintai kebudayaan Indonesia.

Seminar tersebut berlangsung selama dua hari dengan materi Pencak Cimande, Ulin Makao, Ulin Sera dan Ibing Penca berdasarkan Garis Paksi System. Keberadaan seminar tersebut disambut sangat hangat oleh para penggemar pencak silat di Jerman dan sekitarnya. Lebih dari 30 peserta, yang datang tidak hanya dari Jerman tetapi juga dari Belanda, terlihat sangat antusias dan betul-betul menikmati seminar tersebut. Selain dari Hannover, para peserta rela datang jauh-jauh dari kota-kota di Jerman seperti Berlin, Soest, Paderborn, Bonn, Bochum dan Bamberg. Selain itu sekitar 7 orang peserta datang dari Rotterdam dan Groningen di Belanda.

Gending dalam seminarnya tidak hanya memberikan Jurus-jurus dasar pencak silat tradisional Jawa Barat, tetapi juga memberikan penjelasan yang sangat mendetail dan rinci yang disertai dengan contoh-contoh dan gerakan-gerakan dasar yang membantu para peserta memahami maksud dan tujuan dari Jurus jurus dasar tersebut. Selain itu, ia juga memberikan contoh-contoh aplikasi yang diturunkan dari jurus-jurus dasar tersebut. Gending mengungkapkan bahwa dengan menguasai jurus-jurus dasar yang sempurna disertai pemahaman atas fungsinya dengan benar, akan memberikan kemampuan kepada para pesilat untuk menurunkan aplikasi-aplikasi dari jurus dasar tersebut tanpa batas.

Beberapa peserta dari Berlin dengan sangat antusias menyatakan bahwa seminar pencak silat di Hannover menawarkan sesuatu yang berbeda dan memberikan mereka pemahaman yang lebih benar mengenai pencak silat tradisional Indonesia. Sedangkan salah seorang peserta dari Belanda bahkan sangat tertarik untuk meneruskan belajar dan ingin mengunjungi tanah kelahiran silat-silat tradisional yang dijadikan materi dalam seminar tersebut.

Sementara itu inisiator seminar di Hannover, Popeye S. Satjadiguna, mengungkapkan bahwa apabila kita ingin menjadikan pencak silat sebagai warisan kekayaan budaya dunia maka kita harus mau berbagi dengan ikhlas dan menanamkan rasa memiliki terhadap pencak silat tradisional di bangsa-bangsa lain.

“Tanpa rasa ikhlas untuk berbagi maka kita tak akan pernah sukses untuk menyebarkan keindahan pencak silat di dunia, dan tanpa rasa memiliki dari bangsa-bangsa lain di dunia terhadap pencak silat maka kita tidak akan pernah bisa menjadikan pencak silat sebagai kekayaan budaya dunia,“ ungkapnya.

Selain berlatih pencak silat tradisional, di sela-sela seminar para peserta juga diberi kesempatan untuk mencicipi makanan khas Indonesia. Mereka terlihat sangat menikmati Nasi Soto Ayam dan Nasi Rendang yang disiapkan oleh Neneng N. Oktafianti bersama Ophilia Restu Aninda dan anggota PPI lainnya. Peserta juga terlihat sangat menyukai Dadar Gulung dan Onde-onde beserta jajanan pasar Indonesia lainnya. Penyajian makanan Indonesia tersebut semakin menambah kekhasan seminar pencak silat di Hannover ini.

Di akhir acara Popeye S. Satjadiguna sangat berterima kasih kepada Gending atas kesediaannya berkunjung ke Hannover. Ia juga sangat mengapresiasi dukungan dari PPI dan juga KJRI Hamburg atas dukungan finansial yang diberikan, serta berterima kasih kepada staf-staf Pencak Silat Union Deutschland (PSUD), yang diwakili oleh Joko Suseno, Chandrasa Sedyaleksana dan Boris Sebastian Gürtler. Mereka datang jauh-jauh dari Bonn dan Berlin untuk memberikan dukungan moralnya di Seminar Pencak Silat Garis Paksi kali ini.

Sebelum mengakhiri tur di Hannover, Gending telah memberikan workshop pencak silat di Fresnes Paris, Las Palmas, dan Dublin. Dublin menjadi satu-satunya kota penyelenggara dengan peserta terbanyak mencapai 70 peserta dan memberikan sesi khusus pelatihan pencak silat untuk anak-anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s